Breaking News
Loading...
Rabu, 27 Agustus 2014

TPU Batok, Potensi Besar yang belum diasah

Suasana keramaian di kawasan TPU Batok.

 Jalan raya hampir sepanjang 300 meter dipadati oleh penjual dan pembeli, mirip seperti pasar

Infodesaku | Tenjo, Bogor - Pagi menjelang siang, jalan raya Batok mulai dipadati massa. Mereka datang entah dari mana saja. Ada yang dari kampung sekitar tapi banyak juga yang datang dari jauh. Sepenggal jalan sepanjang hampir 300 meter ini penuh sesak.
Sejatinya di kiri dan kanan jalan adalah makam umum. Dan massa yang datang bukan hanya berziarah. Ada yang sekedar cuci mata, bermain, berpacaran, dan berbelanja. Yah, berbelanja. Sebab jalan raya yang cuma selebar 4 meter itu disesaki pedagang musiman. Ada yang menjual makanan, minuman, buah, mainan, sendal, bahkan petasan.


Inilah TPU Batok. Sebuah tempat pemakaman umum yang ada di desa Batok, kecamatan Tenjo yang tidak biasa-biasa. Disebut tidak biasa karena pemakaman ini selalu ramai pada hari pertama dan kedua lebaran setiap tahunnya. “Tempat ini sudah ramai sejak puluhan tahun lalu” kata Rahmat (53) salah seorang pengunjung ketika ditemui Info Desaku di TPU. Tangannya menjinjing bungkusan “Buat anak” jawab spontan ketika ditanya untuk siapa boneka yang baru saja dibelinya.

Ada gula ada semut
Banyaknya pengunjung yang datang menjadi peluang bisnis bagi pedagang. Para pedagang yang berjualan di TPU ini umumnya adalah pedagang musimam. Artinya berdagang di situ jika pas ada keramaian saja. Walaupun ada juga pedagang professional yang sebelumnya sudah punya lapak di pasar dan mengembangkan bisnisnya di TPU ini. Seperti yang diakui oleh Asep (24) penjual petasan “kami hanya mejual saja. Petasan ini titipan dari bos”. Lain lagi yang dijalani oleh Udin penjual buah dari pasar Parungpanjang yang sengaja datang berdagang. “Sehari-harinya saya jualan buah di pasar Parungpanjang” Udin yang berasal dari Cilacap sudah sering berjualan di TPU Batok, dan menurut pengakuannya dagangannya selalu laris manis. “Tadi saya bawa lengkeng sati keranjang, sekarang sudah habis” jelasnya sambil menunjuk kerangjang kosong di sampingnya.

Bagol (bpaling kiri) dan anggota komunitas pemuda 
yang mengelola keramaian di kawasan TPU Batok
Melihat besarnya peluang perputaran uang di TPU Batok ini, Bagol seoarang tokoh pemuda desa Batok, berinisiatif mengelola pasar dadakan ini menjadi lebih berarti. Dengan dibantu sejumlah pemuda desa yang tergabung dalam komunitasnya mereka membangun lapak-lapak sederhana dari bambu yang didapat dari hutan sekitar. Harga sewa yang mereka tawarkan sangat bervariasi tergantung luas dan penyewanya.  “Kami menyewakan lapak seharga Rp.500.000  - Rp.100.000, semuanya tanpa listrik” Kata Bagol yang sehari-harinya juga adalah pegawai di kantor desa. Selain dari menyewa lapak, para pemuda juga mendapat pemasukan dari pengelolaan parkir. Paling tidak ada 3 kantung parkir di kelola oleh pemuda. “Uang yang kami dapat dari usaha ini kami gunakan untuk merenovasi pagar makam”.

Dengan potensi yang besar ini, sudah sewajarnya para pemuda dan aparat desa memikirkan bagaimana mengelola keramaian yang ada di makam ini menjadi suatau pemasukan tetap bagi kas desa. Misalnya dengan menjadikannya sebagai kalender tahunan desa dengan mengembangkannya bukan hanya sekedar pasar dadakan. | DAVID S

0 komentar:

Poskan Komentar

Copyright © 2014 Desa Krocok All Right Reserved